Titik balik di bulan Juni terjadi bila Hemisfer Utara Bumi miring ke arah matahari dan Hemisfer Selatan Bumi miring menjauhi matahari. Di Hemisfer Utara disebut Titik Balik Musim Panas. Titik Balik Juni biasanya pada 21 Juni.
Titik Balik Desember terjadi saat Hemisfer Selatan Bumi condong ke arah matahari dan Hemisfer Utara condong menjauhi matahari. Di Hemisfer Utara disebut Titik Balik Musim Panas. Titik Balik Desember biasa terjadi pada 21 Desember.
Karenan penyebab pastinya tak diketahui, pengaruhnya (hingga ada hari yang panjang maupun pendek) dikenal di banyak budaya kuno. Banyak budaya pra-Kristen, seperti kepercayaan Druid, Jermanik, dan Norman memperingati peristiwa-peristiwa sebagai hari besar.
Saat budaya-budaya seperti itu musnah, Kristen mengambil alih beberapa beberapa perayaan itu, yang kemudian dipakai untuk para santo mereka. Tanggal Natal dalam kepercayaan Katolik dan Kristen hanya 3 hari dari titik balik Desember.
Kini, banyak orang memperingati titik balik sebagai hari libur.
Sebuah cara menetapkan hari besar agaman yang asal²an. Mari kita lihatdari kacamata Al-Qur’an:
Allah SWT berfirman dalam :
1. QS. 78. An-Naba’ / ٧٨ النبأ ayat ke-6:
Artinya, " Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan ?,".
2. QS. 20. Thaahaa / ٢٠ طه ayat ke-53:
Artinya, " Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. "
Dari dua ayat ini kita memahami bahwa arti kata "mihaadaa" pada ayat ke-6 surat An-Nabaa dan kata "mahdan" pada ayat ke-53 surat Thooha, serupa dengan kata "mahdi" pada mahfudlot yang berbunyi begini: "Uthlubil Ilma minal Mahdi Ilaa ‘lLahdi." Artinya "Tuntulah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat".
Di kitab suci al-Qur’an cetakan manapun kita akan mendapatkan bahwa "Mihaadaa" adalah hamparan. Namun saya mengartikan "mihaadaa" adalah yaa seperti di mahfudlot tadi, yakni "buaian".
Apakah "BUAIAN" itu..?
Berdasar mahfudlot di atas, BUAIAN yang dimaksud adalah masa kanak-kanak atau masa bayi. Kita diwajibkan menuntut ilmu dari bayi/lahir sampai liang lahat atau sampai meninggal. Belajar seumur hidup. Long Live Education….
Jadi kata "MIHAADAA" berarti "BUAIAN" atau "AYUNAN".
Gambar di bawah memperlihatkan proses ayunan atau buaian adalah gerak bolaki-balik melalui titik setimbang.
Lalu BUAIAN yang seperti apa..? Bumi yang membuai…atau dibuai…maksudnya bagaimana?
Bumi sebenarnya telah lama semenjak diciptakan oleh Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta ini juga telah dibuai. Bukankah bumi kita ini yang setiap hari bergerak sangat cepat sekitar 1600 km/jam juga bergerak ke kiri dan ke kanan? Gerakan inilah yang mengakibatkan posisi matahari terbit dan tenggelam kita lihat bergeser ke utara dan ke selatan setiap tahunnya.
Gambar di bawah menjelaskan posisi bumi yang terbuai.
Jadi firman Allah dalam QS. 78:6-" Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai HAMPARAN ?," mestinya bisa kita pahami sebagai " Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai BUAIAN ?,". Begitu juga QS.20:53. Serta surah lainnya yang mengandung kata² "mahada" atau derifatnya.
Pergeseran matahari seperti ini, merupakan akibat bumi berevolusi mengelilingi matahari dan sumbu rotasinya membentuk sudut 47° terhadap bidang ekliptika dengan kemiringan tetap. Akibat revolusi bumi antara lain, pada setiap tanggal 21 Juni, matahari akan berada di garis balik utara yakni lintang 23.5° utara khatulistiwa.
Matahari sepanjang tahun mengalami pergeseran ke utara dan ke selatan, yakni pada:
1. tanggal 21 Maret, tepat beredar di khatulistiwa. Matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
2. tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU.
3. tanggal 23 September, tepat berada di khatulistiwa lagi, matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
4. tanggal 22 Desember, tepat berada di lintas 23.5° LS.
Dalam QS. (51) Adz-Dzariyaat / ٥١ الذاريات ayat ke - 48 Allah SWT berfirman yang artinya: "Dan bumi itu Kami beri dian medan (gravitasi), maka sebaik-baik yang menggoyang (buai/ayun)kan (adalah Kami)."
Wa Allahu a’lamu…[pakar].